Cerita di balik Cerita

Malam ini gw dan anak2 kantor punya waktu buat nonton film yg sekarang lagi happening, GIE. Film yg katanya menghabiskan biaya 7 miliar dan bercerita ttg seorang aktifis mahasiswa era 60-an, Soe Hok Gie, yg berjuang untuk sebuah pembebasan dan kebenaran negara ini yg ketika itu bener2 bobrok.

Film yg awalnya berdurasi 4 jam ini dan akhirnya demi pertimbangan ini-itu, akhirnya hanya berdurasi total 2,5 jam ini sepertinya membawa sebuah nuansa baru dalam perfilman Indonesia– yg akhir2 ini dipenuhi dgn film2 bertema cinta (yg itu2 aja),teeneger dan hantu2an–. Ini menurut gw sebagai salah seorang movie maniac. Kenapa juga gw bisa bilang bahwa film ini membawa nuansa baru. Karena tadi ketika gw nonton ama anak2 dan ketika kita pada nungguin giliran nonton (maklum bioskop di Jogja tinggal 1, dan cuma disitu kita bisa nonton film2 ‘terbaru’. jadi semua penonton dari berbagai kalangan pasti akan terlihat di satu tempat aja), gw ngeliat ada yg beda dari orang2 yg mau nonton film ini. Biasanya gw akan melihat pasangan2 org pacaran yg berdandan heboh atau sekelompok gank anak2 SMA yg selalu heboh. Tapi kali ini yg gw temui adalah banyak diantaranya adalah aktifis kampus, ada beberapa yg gw kenal wajah2nya. Sebagian lagi adalah anak2 mapala beberapa kampus yg wajah2nya juga familiar. kalopun gw ga kenal, tapi dari dandananya pun gw bisa langsung tau klo org2 ini bukan movie maniac dan meraka hanya nonton film2 tertentu yg kira2 sesuai dengan ‘alur hidup’ mereka.

Film ini sebenarnya bagus, karena diadaptasi dari buku yg merupakan catatan harian si Gie. tapi kenapa ya, klo menurutku it’s quite boring, apalagi pas di tengah2 film. entah sich klo ini menurut gw aja. Alurnya kadang kepotong2 gitu. Apa ini karena pemadatan durasi dari 4 jam mjd 2,5 jam itu yach???

Sehabis liat film ini, ada sesuatu yg menyesak di dada gw. Ga tau juga, apa karena udah bawaan yach, setiap liat film yg ‘berat’ gw pasti mikir dan kadang terbawa ama cerita film itu. Gw jadi inget waktu pertama kali gw nonton film G 30 S . Berhari2 gw ga bisa tidur, dan selalu kepikiran dan ngebayangin seandainya gw yg jadi anaknya Ahmad Yani dan ngeliat bokap gw di tembak di depan mata. Dan semenjak itu gw ga pernah mau nonton lagi film itu.
Setelah gw nonton film GIE, gw masih kepikiran gimana perasaan org itu ketika dia memilih  untuk berjuang demi kebenaran yg dia yakini, ketika kebenaran itu pada akhirnya membuat dia terasing. Dan dia lebih memilih diasingkan daripada "menyerah dalam kemunafikan" ( ini istilahnya GIE).
Lebih memilih berjuang dengan tetap berada diluar ’sistem’ yg ada dengan konsisten.

Satu yg gw konsen adalah, masih ada ga ya org2 seperti GIE pada saat ini. orang yg mau berjuang murni demi kebenaran tanpa ditunggangi oleh kepentingan2 lain, entah itu politik,agama, organisasi, kepentingan Internasional dsb2. Entahlah…..kenapa gw ngeliatnya sekarang banyak orang2 yg ga siap untuk perjuangan itu dan akhirnya menyarah ke dalam kemunafikan itu tadi.

oh ya…satu yg gw catat dari film itu, dan terutama si Soe Hok Gie. Itu membuktikan bahwa Indonesia ini ada karena adanya beragam manusia, kebudayaan, dan suku bangsa. So…Jgn pernah lagi melihat orang yg berbeda suku bangsa dan budaya sebagai ‘orang lain’ di negerinya sendiri.

well……tulisan gw kali ini hanya ungkapan parasaan gw ketika saat ini berada di masa2 yg sebenarnya ga jauh berbeda dgn era hidupnya si GIE, tetepi dengan ‘kemasan’ yg berbeda. Dimana org2 yg ber-label mahasiswa saat ini sudah kehilangan "taringnya".

btw…si Nicolas Saputra boleh juga aktingnya, tapi koq gw tetep ga sreq ama aktingnya, apa karena sosok Rangga terlalu melekat dalam akting2 dia yach???. tapi ya sutralah…..mendiang nonton aja film ini dan nilai sendiri dgn pandangan loe masing2.

Leave a Reply